Kamis, 23 Desember 2010

HALALKANLAH HIDUP KITA

Ada satu perusahaan besar yang mendapatkan sebuah proyek dengan nominal yang cukup besar pula. Pada saat proyek itu selesai terjadi pergantian pimpinan.

Seorang karyawan sedang membuat laporan dari hasil proyek itu. Keuntungan dari proyek akan diserahkan ke pimpinan yang lama untuk diatur kembali. Tapi laporan yang dibuat harus ditandatangani oleh pimpinan yang baru. Menghadaplah karyawan tersebut ke pimpinan yang baru.

Karyawan : “Pak, saya mau minta tanda tangan Bapak untuk laporan hasil proyek.”
Pimpinan : “Oh, mana keuntungan hasil proyek ini ?”
Karyawan : “Keuntungan sementara akan diserahkan kepada Pimpinan lama pak. Karena beliau yang menangani proyek ini sampai selesai pak”
Pimpinan : “Kalau begitu saya tidak mau menandatangani ini.”

Dengan terpaksa karyawan tersebut menyerahkan uang tersebut ke Pimpinan baru dengan resiko dimarahi Pimpinan lama.

Beberapa waktu kemudian perusahaan tersebut mengalami masalah. Bahwa beberapa tahun yang lalu ada seorang karyawan yang menggelapkan uang perusahaan dengan jumlah yang sangat besar pada masa kepemimpinan yang lama.

Lalu kasus ini dilaporkan ke pihak berwajib. Surat panggilan pun datang atas nama pimpinan. Tapi pimpinan menolak untuk datang dengan alasan “Saya tidak tau apa-apa..”


Miris. Memang. Pada saat pembagian uang Pimpinan mengakui posisinya dengan sangat tegas. Tapi pada saat mengalami masalah pimpinan hanya bersembunyi dibelakang meja.

Bukankah kita mengais rejeki dari tempat kita kerja ? Tidak layak rasanya jika kita hanya memikirkan kesenangan dan keuntungan pribadi saja. Seburuk apapun lingkungan kerja selama kita berada disana berbuat baiklah setidaknya untuk diri kita sendiri.

Kisah seperti itu sering (tidak semua) terjadi di negara kita. Berbagi kejahatan tapi tidak berbagi resikonya. Apakah orang-orang pintar sudah tidak lagi pintar hingga tidak bisa membedakan mana hak mana bukan, mana halal mana haram. Apakah HALAL jika kita mengambil yang bukan hak kita ???

Saya pernah baca salah satu status temen Saya di Facebook :
-   Orang Amerika kentut bilang “excuse me”
-   Orang Inggris kentut bilang “pardon me”
-   Orang Jerman kentut bilang “i'm sorry”
-   Orang Indonesia kentut bilang “not me not me”

Ini hanya sebuah lelucon, tapi secara tidak langsung telah menggambarkan betapa ke-tidak-beranian atau memang kebiasaan orang Indonesia tidak mau mengakui kesalahannya. (sekali lagi tidak semua)


“Dengan atau tanpa agama..
Anda bisa melihat orang baik berbuat baik..
Dan orang jahat melakukan kejahatan..Tapi..
Agar orang baik tidak melakukan kejahatan..
Dibutuhkan agama.” ~Steven Weinberg 1933~


Kutipan diatas mengatakan betapa pentingnya seseorang memiliki agama jika ia ingin menjadi seseorang yang baik. Tidak hanya memiliki tapi memahami dan mengamalkan dalam kehidupan pribadi. Janganlah kita sebagai penerus bangsa malah akan ikut kebiasaan lama yang salah.

Ingatlah kita mencari rejeki lalu memberikan kepada keluarga kita untuk dimakannya dan dijadikan unsur penting bagi kehudupan mereka. Apakah kita tega memberikan sesuatu yang HARAM kepada orang-orang yang kita cintai ? Tidak perlu harta yang berlimpah untuk memberikan kebahagiaan kepada mereka. Cukup sedikit rejeki HALAL yang insyaallah berkah untuk mereka selamanya.

Tidak perlu mencari tiket untuk berlibur keluar negeri. Cukuplah tiket kemudahan saat maut datang menjemput.

“Apabila kamu tidak bisa berbuat kebaikan kepada orang lain dengan kekayaanmu, maka berilah mereka kebaikan dengan wajahmu yang berseri-seri, disertai akhlak yang baik.” (Nabi Muhammad Saw.)

Kalimat diatas membuktikan bahwa harta benda bukan segalanya. Uang dapat membeli banyak hal tapi tidak semuanya.

“Tiga sifat manusia yang merusak adalah : kikir yang dituruti, hawa nafsu yang diikuti, serta sifat mengagumi diri sendiri yang berlebihan.” (Nabi Muhammad Saw.)

Apakah kita mempunyai sifat yang merusak ??? renungkan. Mungkin hal kecil yang kita lakukan hari ini berakibat besar dimasa depan. Berpikirlah sebelum bertindak.

“Karena manusia cinta akan dirinya, tersembunyilah baginya aib dirinya. Tidak kelihatan olehnya walaupun nyata.  Kecil di pandangnya walau bagaimana pun besarnya.” (Jalinus At Thabib)

Kita sering kali berpikir apa yang kita lakukan adalah wajar. Apakah itu wajar pula bagi orang disekitar kita ? ada hal-hal yang kita tidak perlu memikirkan pandangan orang tentangnya. Ada pula hal-hal yang dapat berpengaruh bagi orang lain.

“Engkau berpikir tentang dirimu sebagai seonggok materi semata, padahal di dalam dirimu tersimpan kekuatan tak terbatas.” (Ali bin Abi Thalib)

Banyak hal untuk mencapai bahagia bukan hanya materi semata. Tidak mungkin Allah menciptakan dunia dengan berbagai macam bentuk penghuninya jika hanya materi yang paling indah.

“Bersyukurlah karena kita tidak memiliki semua yang kita inginkan, karena jika iya, apalagi yang hendak kita cari? Bersyukurlah saat kita tidak mengetahui sesuatu, karena itu memberi kita kesempatan untuk belajar. Bersyukurlah atas masa-masa sulit yang kita hadapi, karena selama itulah kita akan tumbuh dewasa. Bersyukurlah atas kesalahan-kesalahan yang kita perbuat, karena itu memberi motivasi untuk menjadi lebih baik.” (Ziyadaturrahmah)

Kita selalu merasa tidak puas dengan apa yang kita dapatkan. Mari belajar bersyukur atas apa yang kita dapatkan dan atas apa yang tidak kita dapatkan.

Kita boleh mengejar kebahagiaan didunia asal dengan jalan yang benar. Raihlah semua impian kita dengan ridho dari Allah. Halal yang kita lakukan halal pula yang kita dapatkan. Jangan menjadi pengecut yang hanya bisa bersembunyi pada harta dan kekuasaan. Karena harta dan kekuasaan hanya bersifat sementara.

“Jadilah orang yang menangis pada saat kau datang kedunia ini dan yang lain tertawa menyambutmu. Dan jadilah orang yang tersenyum pada saat kau meninggalkan dunia ini dan yang lain menangis melepasmu.”

Semoga kita jadi orang-orang yang selalu halal di hadapan Allah SWT. Amin..

(Maaf kalau ada kesalahan kata atau kalimat atau pengertian. ^_~ )

1 komentar:

  1. saya suka dengan blog anda...!!


    dumblash.. adalah skil bangsa acc..!!

    BalasHapus